Tampilkan postingan dengan label INFORMASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INFORMASI. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2009

Wow, 275 SMK Sudah Kantongi ISO

Setidaknya 275 SMK di sejumlah kota/kabupaten telah mengantongi sertifikat ISO 9001:2000 yang menunjukkan kualitas manajemen sekolah sudah baik. Selain itu, telah terdapat 312 rintisan SMK bertaraf internasional.

SMK yang telah mengantongi sertifikat ISO 9001:2000 tersebut paling banyak terdapat di Jawa Tengah, yakni 85 SMK, disusul Jawa Timur (45 SMK), dan Jawa Barat (21 SMK). Di Jakarta, terdapat sedikitnya 11 SMK yang telah mengantongi sertifikat ISO 9001:2000.

SMK yang telah mengantongi sertifikat tersebut memiliki program keahlian unggulan yang sangat beragam, mulai dari mesin perkakas, akuntansi, seni rupa, perhotelan, nautika kapal niaga, kriya logam, hingga tata busana.

Kepala SMKN 4 Jakarta Wahidin Ganef, Senin (22/6), mengatakan, ISO merupakan sertifikasi pengelolaan manajemen yang mengacu ke standar ISO. Untuk mendapat sertifikat tersebut, sekolah harus melaksanakan proses manajemen, pembelajaran, kurikulum, hingga sumber daya manusia, seperti mutu guru yang mengacu pada standar yang telah ditentukan. Lembaga pendidikan yang telah mengantongi ISO memiliki kepastian dan jaminan mutu.

”Sebelumnya, sekolah membuat indikator dan target mutu yang ingin dicapai. Biasanya juga mengacu pada standar mutu Departemen Pendidikan Nasional. Lembaga pemberi sertifikat ISO kemudian mengauditnya. SMKN 4 sudah masuk ke tahun ketiga,” ujarnya.

Kepala SMKN 48 Waluyo Hadi mengatakan, sekolahnya termasuk yang sedang mempersiapkan diri untuk memperoleh sertifikat ISO. Sertifikat ISO menjadi prioritas, terutama bagi sekolah-sekolah yang ingin menjadi sekolah rintisan bertaraf internasional.

”Sekolah bertaraf internasional wajib memenuhi standar nasional dan penjaminan mutu yang ditetapkan Depdiknas. Salah satu penjaminan mutu ketetapan pemerintah adalah akreditasi yang salah satu syaratnya wajib meraih ISO. Sekarang harus ISO 9001:2008,” ujarnya.

Dia mengatakan, sertifikasi ISO melihat secara keseluruhan sistem manajemen mutu sekolah. ”Logikanya, kalau sistem manajemen mutu sekolah sudah terstandar secara internasional, seharusnya kualitas sekolah juga baik,” ujar Waluyo Hadi.

Banyak pilihan
Secara terpisah, Direktur Pembinaan SMK Depdiknas Joko Sutrisno mengatakan, pemerintah berupaya memperkuat tata kelola SMK melalui penerapan sistem manajemen mutu berbasis ISO 9001:2000 dan sekarang ISO 9001:2008.

Kualitas SMK menjadi sangat penting karena SMK mendidik para peserta didik yang nantinya terjun ke dunia kerja. Pada masa sekarang, pencari tenaga kerja menginginkan tenaga yang sangat kompeten dan kompetitif.

Joko mengatakan, pasar kerja yang terus berubah disikapi pula dengan berbagai penyesuaian kompetensi keahlian (dulu istilahnya, program keahlian). Terdapat banyak kompetensi keahlian yang dapat dipilih para lulusan SMP. Saat ini terdapat 121 kompetensi keahlian.

Selain itu, pemerintah menciptakan lulusan SMK yang lentur terhadap berbagai perubahan teknologi dan lingkungan bisnis nasional ataupun internasional. Kompetensi keahlian juga dirumuskan sedapat mungkin agar murid tidak sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.


Sumber : KOMPAS

Kamis, 11 Juni 2009

WAJAH PENDDIKAN INDONESIA



BAB I ANGGARAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

1.1. APBN UNTUK ANGGARAN PENDIDIKAN

Kewajiban konstitusi pemerintah untuk mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD belumlah dipenuhi hingga saat ini. APBN Tahun Anggaran 2008 telah disahkan pada Rapat Paripurna DPR, 9 Oktober 2007 lalu dan menetapkan alokasi anggaran pendidikan hanya 12 persen.

Dalam RAPBN 2008, alokasi untuk anggaran pendidikan hanya sebesar 12 %, jauh di bawah ketentuan UUD 1945 Pasal 31 ayat (4) dan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa anggaran pendidikan sebesar 20 persen. Formulasi anggaran pendidikan 20% kemudian dirumuskan oleh Pemerintah dan DPR dalam UU 20/2003 tentang Sisdiknas, bahwa gaji pendidik dan biaya kedinasan tidak termasuk dalam anggaran 20%, bahwa pemenuhan amanah konstitusi dengan cara bertahap seperti dalam penjelasan pasal 49 ayat (1) UU sisdiknas adalah tidak dibenarkan. hal ini dapat dilihat pada putusan MK No 011/PUU-III/2005, Putusan No. 012/PUU-III/2005, dan Putusan No. 026/PUU-III/2005.

Kenyataan APBN 2007 pun tidak sesuai dengan amanah konstitusi. Anggaran pendidikan masih berada pada level 11,8%. Karenanya MK dalam Putusan No. 026/PUU-IV/2007 kembali menegaskan bahwa UU No. 18/2006 tentang APBN 2007 menyangkut anggaran pendidikan adalah bertentangan dengan UUD 1945 sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Pemerintah mengulangi kembali pelanggaran konstitusional pada APBN 2008 ini. Padahal, Mahkamah Konstitusi (MK) sudah mengeluarkan keputusan bahwa APBN 2006 dan APBN 2007 melanggar konstitusi. Jadi, dengan tidak tercapainya anggaran pendidikan 20% berarti pemerintah dan DPR bersama-sama mengabaikan keputusan MK. Rupanya keputusan MK itu tidak mampu juga menggetarkan kemauan politik para penentu kebijakan di negara ini.

Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Negara

Pengabaian juga terjadi terhadap keputusan raker yang telah disepakati antara Komisi X DPR RI dengan tujuh Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, yaitu Menko Kesra, Mendiknas, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendayagunaan dan Aparatur Negara (Menpan), Menteri PPN/Ketua Bappenas, Menteri Agama, dan Menteri Keuangan pada 4 Juli 2005 lalu telah menyepakati kenaikan anggaran pendidikan adalah 6,6% pada 2004, menjadi 9,3% (2005), menjadi 12% (2006 ), menjadi 14,7% (2007), menjadi 17,4 % (2008 ), dan terakhir 20,1% (2009).

Sementara realisasinya, tahun 2004 anggaran pendidikan masih sekitar 5,5%(2004), dari APBN atau sekitar Rp20,5 triliun. Dan meningkat menjadi Rp 24,6 tiriliun pada 2005. Pada tahun 2006 pemerintah hanya mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 9,7 persen dan dalam APBN 2007 anggaran untuk sektor pendidikan hanya sebesar 11,8 persen, Dan APBN 2008 hanya mengalokasikan 12%, nilai ini setara dengan Rp61,4 triliun dari total nilai anggaran Rp854,6 triliun.

2.1. PRIORITAS ANGGARAN PENDIDIKAN

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, tidak terpenuhinya alokasi anggaran pendidikan minimal 20 persen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semata-mata karena terbatasnya anggaran pemerintah. Menurut DPR, belum tercapainya anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN 2008 menunjukan lemahnya kemauan politik (political will) pemerintah untuk memposisikan sektor pendidikan sebagai prioritas utama.

Wakil Ketua Komisi Pendidikan (Komisi X) DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Heri Akhmadi berpendapat anggaran pendidikan yang kian tahun kian membesar tidaklah dapat dijadikan rujukan satu-satunya untuk menilai bahwa pemerintah telah menunjukan komitmennya secara serius. Sebab, lanjut Heri di saat bersamaan, kenaikan juga terjadi pada sektor-sektor lainnya, bahkan ada yang jauh lebih besar dari sektor pendidikan itu sendiri. Sehingga posisi persentase anggaran pendidikan tidak bergeser naik jauh dari tahun-tahun sebelumnya. “Bahkan anggaran pendidikan lebih kecil dari cicilan hutang Indonesia dan anggaran subsidi,” kata Heri.

Pada APBN 2008. Pembayaran bunga utang disepakati sebesar Rp91,365 triliun. Sementara subsidi disepakati sebesar Rp97,874 triliun. Kenyataannya, perbandingan di lapangan juga demikian, misalnya di Indonesia biaya pendidikan di universitas hanya 1.300 dolar AS per mahasiswa per tahun, sedangkan di Malaysia 12.000 dolar AS per mahasiswa per tahun. Di pendidikan dasar (SD, red) di Indonesia hanya 110 dolar per murid per tahun sedangkan di Malaysia 18.900 dolar Amerika per murid per tahun.

”Mengapa kita mendahulukan membayar utang? Apakah ada perintah konstitusi? Sekarang ini bayar utang lebih besar dari pada untuk mendidik anak bangsa ini menghadapi masa depannya,” tandas Heri. Menurutnya, yang bisa dihemat adalah dengan mengurangi belanja untuk membayar utang. Kemudian, menambah penerimaan negara, misalnya dari sektor pajak. Pasalnya, pendidikan ini satu-satunya investasi yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

1.3 ALOKASI ANGGARAN PENDIDIKAN DI IDONESIA

No


Program

2005

2006

2007

2008

1



28.500.000,0

61.203.110,0

42.629.000,0

112.400.601,0

2


Pengelolaan SDM Aparatur

5.000.000,0

59.940.000,0

55.000.000,0

46.211.661,0

3


Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Negara

92.515.149,0

161.483.658,0

76.876.000,0

26.844.450,0

4


Penelitian dan Pengembangan IPTEK

40.000.000,0

40.000.000,0

388.030.000,0

390.000.000,0

5



257.060.000,0

275.211.192,0

452.394.000,0

581.437.970,0

6


Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun

10.817.441.914,0

20.286.768.454,0

20.455.643.070,0

23.951.520.765,0

7


Pendidikan Menengah

2.487.160.000,0

3.637.879.180,0

3.764.233.999,0

4.080.354.830,0

8


Pendidikan Non Formal

355.190.000,0

830.695.822,0

1.256.717.000,0

1.176.051.807,0

9


Pendidikan Tinggi

6.889.654.496,0

10.392.142.831,0

7.632.498.157,0

13.723.755.441,0

10


Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan

2.747.335.000,0

3.093.589.400,0

2.468.855.000,0

3.152.813.070,0

11


Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan

70.275.208,0

101.962.340,0

182.525.000,0

167.337.335,0

12


Manajemen Pelayanan Pendidikan

322.110.000,0

361.852.500,0

919.697.081,0

1.153.844.155,0

13


Penelitian dan Pengembangan Pendidikan

117.090.000,0

225.026.800,0

610.952.000,0

1.120.871.867,0

14


Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender & Anak

17.300.000,0

17.300.000,0

17.900.000,0

17.560.521,0

15


Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

1.573.041.413,0

908.092.522,0

6.016.942.357,0

-



Jumlah

25.819.673.180,0

40.453.147.809,0

44.340.892.664,0

49.701.004.473,0

Anggaran Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional tiap tahunnya mengalami peningkatan anggaran. Pada tahun 2006, jumlahnya meningkat cukup besar senilai 40.453.148 dari anggaran 25.819.673 pada tahun 2005

BAB II MENAMBAL ANGGARAN PENDIDIKAN

Pemerintah akhirnya mengambil langkah lain unruk menambal biaya pendidikan. BHP adalah salah satu contohnya. Sejak tahun 2004 lalu, RUU Badan Hukum Pendidikan, lahir sebagai implementasi pasal 53 UU No. 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas. Pada ayat (1) disebutkan bahwa penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. Didalam tubuhnya berdiri 10 prinsip: nirlaba, otonom, akuntabel, transparan, penjaminan mutu, layanan prima, akses yang berkeadilan, keberagaman, keberlanjutan, partisipasi atas tanggung jawab negara. Tampaknya cukup meyakinkan.

Menurut RUU BHP, peran yayasan sebagai penyelenggara satuan pendidikan dileburkan dalam sebuah lembaga pengambilan keputusan yang disebut sebagai Majelis Wali Amanat. Peranan yayasan terhadap pengambilan keputusan pun hanya punya hak suara sebanyak 49%. Alasannya, ini untuk menghindari sistem hak veto yang mungkin sudah berjalan selama ini. Sedangkan prinsip nirlaba BHP sesuai dengan yang disampaikan oleh Prof Dr. Mansyur Ramli, dinyatakan bahwa berdasarkan pengertian nirlaba terdapat dua kategori badan hukum yang legal menjadi BHP.

1. Pertama , BHP yang didirikan oleh badan hukum nirlaba dengan hak surplus sebanyak-banyaknya 25% dan dapat dibagikan kepada pendiri.

2. Kedua, BHP yang didirikan oleh badan hukum laba dengan hak surplus pendiri sebanyak-banyaknya sebesar 50%. Menurut penuturannya, aturan inilah yang akan menarik banyak minat para pengusaha untuk menyelenggarakan pendidikan, mengingat keuntungan yang dinilai cukup besar. Diharapkan akan muncul dorongan untuk kreatif dalam menyelenggarakan dan meningkatkan mutu pendidikan pun akan semakin besar.

Diramalkan pula, bahwa nanti akan banyak perguruan-perguruan tinggi swasta yang akan tutup karena tidak “kuat” bertahan dan munculnya persaingan yang ketat antara perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. Prediksinya untuk masa depan pendidikan di Indonesia, akan sangat ditentukan oleh pasar dan kebutuhan industri. Maka menurutnya akan sangat mungkin, pendidikan di Indonesia akan didominasi oleh beberapa kategori yang unggul menurut kacamata pasar.

RUU BHP diharapkan sebagai salah satu jalan keluar bagi keterlibatan dan tanggung jawab pemerintah dalam mengatur penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Bagaimana pula dengan harapan masyarakat yang ingin punya kesempatan seluas-luasnya untuk bisa akses ke jenjang pendidikan tinggi? Mengenai kemungkinan pemberian bantuan pendidikan dan beasiswa bagi calon mahasiswa yang cerdas namun berada dalam golongan yang tak mampu, masih diletakkan dalam prioritas yang berbentuk Rancangan Peraturan Pemerintah. Yang secara struktur, diprediksi bahwa kekuatannya lebih lemah daripada kekuatan hukum RUU BHP yang nantinya akan disahkan. Berkaitan dengan hal ini, Mansur Ramli menyatakan, “Masalah pendanaan pendidikan memang tidak diatur dalam BHP, tapi itu diatur di dalam pemasalahan yang lain yaitu Rancangan Peraturan pemerintah tentang pendanaan pendidikan. Bahwa tanggung jawab pendanaan pendidikan adalah pemerintah.”


Dengan aturan pembagian hak surplus sebesar 25 % dan 50% dalam RUU BHP, cenderung memperlihatkan orientasi penyelengaraan pendidikan Indonesia akan menuju ke arah komersialisasi pendidikan. Keadaan ini bertambah jelas dengan minimnya prioritas pendanaan pendidikan dari pemerintah. Dari jajaran diknas dan legislatif yang hadir sebagai pembicara saat itu, tak ada pernyataan tegas bahwa RUU BHP bisa menjamin Indonesia terhindar dari komersialisasi pendidikan.

BAB III EFISIENSI DANA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Pernyataan Ketua KPK Taufiequrachman Ruki bahwa tiap tahun terjadi kebocoran anggaran 30 Persen. Sebenarnya sudah pernah dilontarkan oleh almarhum Profesor Soemitro Djojohadikusumo sejak Lebih dari 20 tahun silam. Bayangkan seperti sebuah tradisi, begitu mengakar dan membudaya.

30% Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bocor akibat praktik KKN yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan barang dan jasa. Memang, kenyataannya hingga kini kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah masih berpotensi menjadi ladang subur korupsi.

Bahkan, temuan Tim Indonesia Bangkit lebih mencengangkan lagi, yaitu pengajuan anggaran belanja dan modal dari seluruh kementrian dan lembaga sarat dengan penggelembungan 200% hingga 300%. Tim Indonesia Bangkit yang beranggotakan ekonom independen itu meneliti efisiensi anggaran pemerintah. Penelitian dilakukan melalui analisis Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) awal yang diajukan kementrian dan lembaga pada kurun waktu 2004 sampai 2006, serta difokuskan pada proyek-proyek infrastruktur dan belanja barang. Hasilnya terdapat perbedaan mencolok antara harga pasar dan anggaran yang diajukan. Lalu, akan berguna kah efisiensi dana yang melulu bocor ini?

Rabu, 27 Mei 2009

Pembayaran Formulir SNMPTN Dibuka Lebih Awal

Pembayaran Formulir SNMPTN Dibuka Lebih Awal Cetak E-mail

Bagi calon mahasiswa baru yang yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi negri (PTN), panitia penyelenggara Seleksi Ujian Masuk Pergurun Tingg Negri (SNMPTN) 2009 membuka pembayaran formulir bagi calon mahasiswa lebih awal, yaitu pada tangal 1 Juni mendatang. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya antrian dan juga desak-desakan yang membuat pelayanan kurang baik.

Menurut Pembantu Rektor I Universitas Riau (UR) Prof Dr Aras Mulyadi DEA, alasan dilakukan pembayaran lebih awal itu adalah dari hasil evalusi penyeleggaraan SNMPT 2008 yang lalu, dimana calon mahasiswa melakukan antrian panjang dan berdesak-desakan di tempat pembayaran formulir SNMPTN yaitu di seluruh cabang Bank Mandiri Pekanbaru.
“Kami tidak mengiginkan hal itu terjadi kembali, maka dari itu hasil rapat panitia SNMPTN 2009 yang berlasngsung di Yogyakata kemarin memutuskan untuk membuka pembayarann lebih awal,” kata Aras.


Dijelaskan guru besar Faperika UR ini, pada pelaksanaan SNMPTN 2009 ini terdapat tiga materi ujian yang diuguhkan kepada calon mahasiswa. Padahal SNMPTN tahun lalu hanya dua yaitu tes kemampuan dasar dan bidang. Sedangkan untuk SNMPTN 2009 ini ada penambahan satu test lagi yaitu test potensi akademik (TPA). Sedangkan untuk harga formulir pendaftaran tidak mengalami kenaikan, dimana untuk IPC Rp175 ribu, IPA Rp150 ribu dan IPS Rp150 ribu. Selain itu juga pembayaran formulir ini dapat dilakukan dengan internet banking, auto debet dan mendatangi langsung ke kantor cabang Bank Mandiri yang tersebar di Indonesia.


“Jadi kepada calon mahasiswa diberikan pilihan dan kebebasan, mau pilih cara mana untuk membayar formulir itu,” sebut Aras.. Setelah calon mahasiswa membayar formulir SNMPTN, pendaftaran baru bisa dilakukan pada tanggal 15 Juni, yaitu dengan mengambil formulir ke tempat yang sudah disediakan, namun tentunya harus menunjukkan bukti pembayaran kepada panitia. Batas akhir pendaftaran dan pengambilan formulir yaitu 15 s.d 27 Juni, dan pada tanggal 1 s.d 2 Juli ujian SNMPTN.“Pada penyelenggaran SNMPTN 2009 ini, terkoneksi 57 perguruan tinggi negrei yang ada di seluruh Indonesia,” ucapnya.URNEWS- www.unri.ac.id